Strategi · 10 menit

FTTH vs FTTB vs Wireless: mana yang cocok untuk ISP baru di Indonesia?

Banding teknologi akses last-mile untuk ISP baru: FTTH (fiber to the home), FTTB (fiber to the building), dan wireless (radio/Wi-Fi mesh). Trade-off biaya, kapasitas, regulasi, dan use case.

Diperbarui · Oleh tim Fibero

Tiga teknologi, tiga konteks

FTTH cocok untuk perumahan padat dengan permintaan kecepatan tinggi (>20 Mbps) dan operator yang siap CAPEX rolling out kabel. FTTB cocok untuk apartemen dan ruko bertingkat — fiber ke gedung, lalu Ethernet/VDSL ke unit. Wireless (PtMP atau mesh) cocok untuk kawasan jarang penduduk atau pulau-pulau kecil di mana kabel terlalu mahal — tapi kapasitas terbatas dan rentan cuaca.

Biaya CAPEX per pelanggan (estimasi kasar)

FTTH urban: Rp 500K–1,5 juta per home pass (kabel + ODP + ONT). FTTB: Rp 200–500K per unit (sharing fiber & switch). Wireless mesh: Rp 300–800K per pelanggan (perangkat radio + instalasi). OPEX-wise FTTH paling stabil dan churn paling rendah; wireless paling fluktuatif.

Rekomendasi untuk ISP baru

Mulai dengan FTTH di kawasan padat (perumahan 100+ rumah dalam radius 1 km) untuk economics terbaik. Setelah pasar matang, ekspansi ke FTTB untuk apartemen/ruko sekitar. Wireless hanya kalau Anda menargetkan area yang fiber-nya jauh dari ekonomis. Apa pun pilihannya, pakai sistem manajemen yang menyatukan peta, billing, dan RADIUS sejak awal — supaya transisi multi-teknologi nanti mulus.

Mau Fibero menangani banyak ini untuk Anda?

Aplikasi operasi ISP fiber di Indonesia. Alpha aktif, daftar tunggu gratis, mengunci harga 24 bulan.

Daftar tunggu Baca artikel lain